Literasi Siswa

Cerpenku. "DEWI SEKAR KEMUNING" - Karya: Felichia Fatmayani-Kelas X5-SMAN 1 SAMBIT

 DEWI SEKAR KEMUNING

Karya: Felichia Fatmayani – Kelas X5 – SMAN 1 SAMBIT

“Pyarr! Gluadhyarrr!” Suara petir bergumuruh.

Tak disangka malam berbintang penuh cahaya bulan yang terang, berpaling menjadi malam sejuta tangisan. Tepat di sebuah Desa kecil dalam bawah pimpinan kerajaan Dinastipura yaitu Desa Kunawang, terdapat peristiwa alam dimana suara petir yang menyambar nyambar, angin badai yang bergelombang cepat, bumi berguncang hebat seolah meluapkan amarahnya. Warga berlarian mencari tempat perlindungan untuk diri mereka. Bersamaan dengan hujan lebat yang terus mengguyur sekujur badan.

Angin bertambah kencang dan hujan semakin deras menghantam. Banyak rumah warga yang roboh dan rusak karena bencana.

“Brughhhh” rumah gubuk yang ambruk karena tak kuat menahan guncangan.

” Uhuhuhu hiks hiks, tolong! Sakit sekali! Tolong arghhh huhu!” Rintihan lemah seorang wanita tua yang kakinya tertimpa runtuhan salah satu rumah warga.

Tak usai rintihan wanita tua itu datanglah seorang pemuda dari timur, yang berpakaian seperti seorang pendatang dari wilayah lain. Tak terlihat wajahnya karena terbungkus kain hitam.

“Bangunlah nyonya! Cepatlah mencari tempat yang aman ” ujar pemuda itu seraya membantu wanita tua tersebut untuk berdiri.

Wanita itu menggapai tangan sang pemuda dan berusaha berdiri dengan bantuan sang pemuda tersebut. Terlihat sayup layu kedua mata itu, perlahan bibirnya pun tergerak.

“Terimakasih kisana! Siapa gerangan engkau yang menolong ku ini?, dirimu terlihat bukan dari desa ini. Apakah engkau dari desa lain? “

Saut wanita tua itu seraya perlahan berdiri lemah.

Pemuda itu hanya menatap wanita tua itu dengan senyuman dan kemudian, membantunya untuk pergi mencari tempat yang aman.

Disebuah rumah tua, yang terbuat dari bambu tak jauh dari Desa Kunawang yang menjadi tempat berlindung wanita tua tersebut. Pemuda berkain hitam yang menutupi wajahnya itu, kemudian melangkah pergi meninggalkan wanita tua itu, tanpa seucap perkenalan siapa dirinya yang berpakaian rakyat jelata tetapi moralitas seperti penguasa.

Wanita tua yang tau akan ditinggalkan menangkap tangan pemuda yang menolongnya dan kemudian ia merintih berkata

” Tuan! Kumohon jangan tinggalkan saya disini sendiri! Jadilah Tuhan pelindungku ” ucap wanita tua itu tanpa ragu dengan perkataannya memohon belas kasihan.

Pemuda berkain hitam itu menepis tangan sang wanita tua itu, seolah ia sangat muak dan marah. Wanita tua yang merintih itu terjatuh lemas, bingung dengan sang pemuda yang lembut dan baik itu, berubah menjadi naungan singa yang lapar. Pemuda itu berjalan dua pertiga langkah dari posisi wanita tua yang ditolongnya.

“Taukah engkau siapa Tuhan itu? Tuhan itu ialah suatu zat yang mulia, yang sempurna, yang agung, yang adil dan bijaksana! Engkau bermuslimah seakan engkau yang paling beragama, tetapi hatimu mudah berpaling darinya!. Ketahuilah wahai rakyatku!! ALLAH LAH TUHANMU SATU SATU -NYA!! pencipta alam dan semesta serta bumi yang kau tinggali ini.!” Jelas sang pemuda kepada wanita tua tersebut.

” Aku ini bukan hiyang Gusti! Jangan engkau jadikan aku sesembahanmu, pelindungmu, dan ketergantunganmu padaku.! Namaku Dewi Sekar Kemuning, hanyalah seorang manusia dengan nama dewi tapi bukan dewa ataupun seorang nabi! Sembahlah Tuhanmu perkuatlah Agamamu nyonya, aku hanya datang membantu saja rakyat yang tertimpa musibah bencana!. Ketauhuialah rakyatku! bencana yang melanda desa ini, adalah akibat dari aib yang kau umbar didesa ini. Menyalah gunakan agama, serta zina yang dilakukan kelompok mu didesa ini merenggut kebahagiaan para pemuda wanita suci!”

Tambahnya kemudian pergi meninggalkan wanita tua tersebut tanpa memandangnya sedikitpun.

Esoknya bencana telah usai, namun bekasnya merugikan dan menghancurkan keindahan desa Kunawang. Disisi yang bersamaan, semua warga desa Kunawang dikejutkan oleh sebuah bunga yang besar, dan memiliki daun emas yang indah sertapun bersinar. Letaknya ditengah desa, dengan posisi lurus melentik seperti anugrah setelah usai bencana yang terjadi. Akan tetapi, siapapun yang berhati buruk menyentuh bunga itu maka, ia akan menjadi bagian dari bunga bunga indah tersebut. Lain dari yang berhati baik, mereka akan pulih dari penyakitnya dan kembali dengan paras yang sempurna seperti sedia kala. Dan karena, bunga itu hadir setelah bencana dan datangnya seorang Dewi, maka bunga tersebut diberi Nama DEWI SEKAR KEMUNING sesuai dengan Dewi yang menolong warga, dan mengajarkan agama Tuhan maha pencipta Alam dan semesta.

Pesan dan Kesan : Ini hanyalah sebuah cerita fiksi dengan sejuta cerita dan makna. Berjuta air mata yang digambarkan, beribu realita yang menjadi sebuah prosa. Janganlah kamu, sekali kali berpaling dari Tuhanmu yang maha Esa, Hanya karena ada orang yang menunjukkan kehebatannya untuk menolongmu, ingatlah semua hal yang ada sudah diatur Allah SWT.

END.

Cerpenku. "Aku, Kamu, dan Pantai Prasaja" - Karya Gayatri Desvira Cholis-Kelas X2-SMAN 1 SAMBIT

Aku, Kamu, dan Pantai Prasaja

Karya: Gayatri Desvira Cholis-Kelas X2-SMAN 1 SAMBIT

Deburan ombak yang menyapa tepi pantai, suara kicauan burung yang saling bersahutan dan indahnya matahari terbit di ujung lautan tak mengindahkan seorang anak laki-laki yang tengah asyik dengan dunianya sendiri, membuat istana pasir yang megah dengan peralatan yang ia miliki. Saat tengah asyik membuat istana ia dikejutkan dengan suara lengkingan khas anak kecil perempuan, dia berkata;

“Pantainya  sangat indah, apa kamu tidak mau melihat keindahan ini? Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mengarungi seluruh lautan beserta isinya, agar aku bisa melihat apa aja isi di dalamnya. Aku ingin melihat ikan-ikan yang berenang, terumbu karang yang beraneka jenis dan warna, aku ingin melihat itu semua dengan mata kepalaku sendiri. Lautan memang se misterius itu untuk dijelajahi.” Kata gadis kecil yang entah dari mana ia datang dan langsung berceloteh seolah mengenali orang yang ia ajak bicara itu.

“Dan kamu di sini hanya untuk bermain pasir? tidak bermanfaat sekali, hal yang kamu lakukan ini bisa membuat pasir pantai terkikis tahu!” Anak laki-laki yang mendengar seruan gadis kecil itu hanya bingung sambil memandang aneh ke gadis kecil itu. Ia tidak paham apa yang dikatakan oleh gadis itu, apakah ia berkata dengannya? Atau dengan orang lain? Tapi setelah ia melihat sekitar, hanya ada dirinya dan gadis kecil aneh di depannya ini saja.

“Gadis aneh,” gumam anak laki-laki itu sembari melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda akibat pembicaraan tak jelas dari gadis itu.

“Apa katamu aneh?! Hei kamu yang aneh merusak alam berkedok bermain itu sangat tidak bagus untuk ditiru. Harusnya kamu memandangi saja ciptaan Tuhan yang indah ini, tidak perlu merusaknya, dasar laki-laki kepala batu!” Ucap gadis itu dengan nada tak terima.

Malas meladeni sang gadis, anak laki-laki itu bergegas pergi meninggalkan gadis itu sambil berkata “Aku tidak peduli dengan apa yang kamu ucapkan gadis aneh.” Mendengar ucapan tersebut, gadis kecil itu hanya diam sambil memandang lelah ke anak laki-laki itu.

Gadis itu pun mengalihkan pandangannya ke laut lepas, sambil tersenyum tipis ia memejamkan matanya sembari menikmati udara pagi yang sangat terasa segar, saat itulah ia berandai betapa luasnya lautan yang ada di dunia ini, berbagai hewan dan tumbuhan laut hidup di dalamnya, betapa banyaknya spesies hewan dan tumbuhan yang ada di sana. Entah keberadaannya yang sudah diketahui oleh umum atau belum, yang pasti mereka hidup dengan bebas tanpa campur tangan manusia.

Alangkah indahnya jika laut dan isinya selalu dijaga kelestariannya, entah itu di dalam dan di luar kawasannya. Di tengah andaiannya, ia mendengar suara sang ibu memanggil ia untuk pulang ke rumah. Gadis itu pun sontak membuka mata, ia melihat ke sekitar pantai ternyata ia kembali mengingat suasana pantai 10 tahun yang lalu. Tak mau terlarut dengan kerinduan akan lautan yang tak lagi seperti dulu, gadis yang telah beranjak dewasa itu bergegas menghampiri sang ibu yang telah menyambutnya dengan senyuman hangat.

Berbeda dengan sang gadis kecil yang tetap menyukai segala hal tentang laut, nyatanya anak laki-laki itu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa dengan penuh wibawa. Sagara Arnav Mahardika namanya, nama yang gagah untuk seorang Oseanografi atau ahli kelautan. Ya… cukup mengejutkan, anak yang dulunya tak terlalu memperhatikan laut sekarang berprofesi sebagai ahli kelautan.

“Bang Arnav, bisa minta tolong menggantikan saya untuk konservasi budidaya penyu di Pantai Prasaja? Saya tidak bisa hadir karena disuruh komandan untuk tetap berada diruang kendali,” ucap salah satu rekannya. Arnav yang mendengar nama pantai itu disebut ingatannya langsung terlempar jauh semasa ia dan gadis kecil aneh itu bertemu. Setelah ia pikir, sudah lama Arnav dan gadis aneh itu tidak berjumpa semenjak ia pergi meninggalkan gadis itu di pantai, rasanya rindu mendengar apa yang gadis itu ucapkan dahulu tentangnya “,Boleh bang”

Puluhan penyu yang siap untuk dilepaskan ke laut, sudah mulai dibawa oleh beberapa anak-anak TK yang sedang melakukan study tour di kawasan itu. Konservasi budidaya penyu ini dilakukan oleh warga sekitar dibantu relawan komunitas tertentu dalam menjaga habitat penyu agar keberadaannya tidak menjadi punah. Selain itu, untuk edukasi bagi anak-anak maupun pengunjung yang sedang berlibur di Pantai Prasaja. Terlihat antusiasme anak TK yang bersemangat untuk melepaskan penyu-penyu itu. Dan ada satu hal yang menarik perhatian Arnav. Seorang wanita yang sepertinya adalah guru dari anak-anak itu, yang ikut andil membantu mengoordinasikan anak-anak untuk pelepasan penyu. Wanita itu mengingatkannya dengan gadis kecil aneh yang ia temui di pantai ini 10 tahun yang lalu. Apa kabar ia sekarang?

Matahari tenggelam adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para wisatawan yang berkunjung di pantai, indahnya matahari yang menghilang seolah ditelan luasnya lautan itu pun tak ayal membuat banyak orang yang ingin berdiam menikmati keindahan itu atau bahkan mengabadikannya lewat foto. Seperti seorang wanita yang berpakaian khas seorang guru yang tengah menikmati indahnya Pantai Prasaja di sore hari.

“Pantai yang sama dengan suasana yang berbeda…aku rindu pantai dan lautan ini semasa 10 tahun yang lalu, kalian terlihat berbeda… hal apa lagi yang mereka lakukan kepada kalian, tak henti-hentinya mereka merusak alam tanpa memikirkan sebab dan akibat yang akan terjadi. Apakah mereka tidak bisa berpikir? Apa perlu aku memberi tahunya dengan pengeras suara.”

“,dan lagi jika dahulu aku hanya melihat anak laki-laki kepala batu yang bermain istana pasir di sini, sekarang aku melihat banyak sekali orang-orang yang bermain pasir, bahkan mengikisnya untuk menjadikannya lahan peselancar untuk beraksi, huh…. sangat tidak habis pikir dengan orang-orang seperti itu,” gumam wanita itu berceloteh tentang keresahannya terhadap pantai yang semakin terlihat memburuk dibanding 10 tahun yang lalu. Ia terus berceloteh sampai tak sadar bahwa ada seseorang di sampingnya yang mendengarkan keluh kesahnya terhadap perkembangan pantai dan lautan.

“Sudah selesai nona?,”

“,dasar… kau sama saja seperti 10 tahun yang lalu, benar-benar pantas kupanggil gadis aneh.” Ucap seorang laki-laki dewasa yang berpakaian kaos dengan logo Oseanografi atau peneliti laut.

Wanita itu pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki itu. Jika kalian berpikir siapa wanita ini? Ya ia adalah gadis kecil aneh yang memiliki impian untuk mengarungi seluruh lautan beserta isinya, ia adalah  Kamaya Mariena Sandyakala nama yang cantik untuk wanita yang selama ini Arnav cari.

“Maaf, kau salah orang tuan.” Ucap Mariena bergegas pergi meninggalkan Arnav tetapi, belum selangkah ia pergi ia dikagetkan dengan tangan yang sudah tergenggam nyaman di lengannya.

“Aku sudah berusaha mencarimu dari dulu tapi tak pernah jumpa, ini aku anak laki-laki yang dahulu bermain istana pasir di pantai ini.” Mariena yang mendengar perkataan laki-laki itu hanya diam mengamati segala hal tentang laki laki-laki itu, ia berpikir apakah benar ini anak laki-laki kepala batu itu atau bukan.  “Apa kau memang benar dia? Si anak kecil laki-laki kepala batu?”

“Iya itu aku, bolehkah kita berbicara?”

Suara gemuruh ombak dan angin yang saling bersahutan ditemani cahaya bulan yang bersinar terang seolah menjadi saksi pertemuan antara dua orang yang memiliki kisah cerita masing-masing. Tak ada yang memulai pembicaraan, mereka hanya duduk di tepi pantai sampai akhirnya “aku tidak menyangka kau… si anak laki-laki yang dulunya tak terlalu berminat dengan laut nyatanya profesi yang kau geluti sekarang sangat amat berhubungan dengan lautan dan seisinya.”

“Dan aku pun sama tidak menyangkanya denganmu.”

Mariena yang mendengar itu mengerutkan alisnya, sedetik kemudian ia paham akan apa yang laki-laki itu bicarakan. Ia sedikit tertawa sebelum menjawab perkataan sekaligus pertanyaan dari laki-laki di sampingnya itu. “iya kau melihatnya, aku adalah seorang guru TK…. tapi bukan berarti kau bisa berkata seperti itu Arnav.”

“Profesiku memang sangat jauh bahkan bertolak belakang dengan impian dan keinginanku dimasa kecil, impianku tetap sama… walau tidak bekerja dibidang itu, aku masih bisa melihat dan mengetahui apa saja hal-hal terbaru mengenai kondisi pantai atau lautan entah itu dari internet, majalah, koran atau bahkan seperti sekarang aku ikut andil dalam hal konservasi penyu itu cukup membahagiakan karena aku bisa sedikit dengan langsung membantu kelestarian hewan laut.” Arnav yang mendengar kalimat demi kalimat yang Mariena ucapkan sangat kagum akan pemikiran serta keinginan yang selalu sama yaitu tentang laut dan seisinya, entah itu dahulu atau masa sekarang.

“Dan lagi kau adalah seorang peneliti laut, apa saja perkembangan laut kau pasti mengetahuinya kan?” Arnav yang sedang larut akan kekaguman itu pun langsung tersadar setelah mendengar pertanyaan dari wanita itu, ia lantas menganggukkan kepala dan fokus akan cerita yang wanita itu ucapkan kembali.

“Pantai ini… dulu 10 tahun yang lalu pantai ini masih sangat terjaga bebas dari kaki tangan manusia yang memiliki niat jahat, aku melihatnya, biota yang ada di dalamnya pun masih sangat terjaga. Dahulu ayahku sama sepertimu seorang peneliti laut, jika ada waktu senggang ayah selalu mengajakku untuk naik kapal, mengeksplorasi laut. Ayah mengenalkanku tentang segala hal tentang laut, tentang biota yang ada di dalamnya entah itu terumbu karang, ikan, kerang, bahkan siput laut yang selalu aku tanyakan karena selalu ada di serial kartun tontonanku pun ikut ia tunjukan padaku. Hanya sekedar memberi tahu dan memberi penjelasan bahwa segala hal yang ada di dalam laut sudah seharusnya patut untuk dijaga kelestariannya. Boleh mengambil tapi jangan lupa untuk mengganti agar biota laut tetap lestari keberadaannya hingga sampai kapan pun itu.”

“Tapi nyatanya ada saja tangan-tangan nakal manusia yang tetap memburu bahkan merusak laut dan pantai hanya untuk kesenangan pribadi, atau hal yang paling sangat sepele yang biasa dilakukan oleh masyarakat pun bisa membuat laut menjadi rusak seperti membuang sampai di sungai, limbah pabrik yang berbahan kimia dan lain sebagainya. Aku turut prihatin atas segala perubahan yang terjadi di pantai ini, mereka sangat berbeda dan berubah, aku rindu pantai ini 10 tahun yang lalu Ar.”

Arnav yang mendengar cerita tersebut pun ikut membenarkan segala kejadian yang terjadi di dalam hatinya, selama 2 tahun ia mengarungi pekerjaannya sebagai Oseanografi atau peneliti laut memang banyak sekali kasus-kasus yang menerpa dunia kelautan yang membuat ekosistem laut pun semakin menurun. Entah dari warga negara sendiri atau bahkan negara lain pun ikut menjadi tersangka rusaknya ekosistem laut dan pesisir pantai. Banyak sekali pengadaan yang dilakukan pemerintah maupun instansi-instansi terkait dalam memberi wawasan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan serta alam, terutama laut.

Banyak sekali masyarakat yang masih saja menyepelekan hal-hal kecil yang mungkin akan berakibat fatal pada kemudian hari. Kurangnya pengetahuan dan teknologi selalu menjadi alasan bagi para pelaku melakukan tindakan tidak terpuji yang dapat merugikan manusia maupun alam sekitar. Alam tidak akan memberontak jika manusia tidak berulah.

“Ya… yang kau ucapkan memang benar. Dan jika boleh kusimpulkan kau memiliki impian dan keinginan mengarungi atau menjelajah seluruh lautan beserta isinya karena kau ingin menjadi seperti ayahmu?” wanita itu hanya diam sambil memandang laut lepas di depannya. Ia menghembuskan nafas lalu tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan dari Arnav.

“Iya kau benar Arnav… aku kagum dengan segala pengorbanan yang dilakukan oleh ayahku untuk meneliti laut segala hal tentang laut sudah menjadi makananku sedari kecil, seperti yang kukatakan sejak awal ayahku selalu memberi wawasan tentang laut dan seisinya, sampai pada akhirnya aku sendiri tertarik dengan segala hal yang berbau laut, seperti… rasanya sangat menarik untuk diulas lebih lanjut tapi sepertinya cukup sampai situ saja impianku berada.”

“Bukan berarti aku berhenti menyukai segala hal tentang laut, namun setelah kuusik lebih lanjut bidang yang lebih cocok untuk aku adalah PGTK, menjadi guru untuk taman kanak-kanak ternyata boleh juga, ini menyenangkan kau tahu kata temanku aku menjadi lebih awet muda karena selalu berada di kerumunan anak-anak… hahaha.” Mereka berdua pun tertawa bersama di bawah sinar bulan purnama serta berisiknya ombak yang bersahutan. Tiba-tiba Arnav mengulurkan tangannya ke Mariena sembari berkata “Teman?”

Mariena yang mendengar itu langsung menjabat tangan Arnav dengan keras sembari tersenyum lebar “Teman!!”

Lima bulan berlalu semenjak pertemuan kedua mereka di tempat yang sama, yaitu Pantai Prasaja. Kedua anak kecil itu sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa dengan kepribadian yang lebih tertata dari sebelumnya. Setelah menjalin pertemanan secara resmi keduanya tampak semakin akrab dan lebih dekat dari segi apa pun.

Informasi yang didapat Mariena tentang laut semakin bertambah akan hadirnya Arnav yang senantiasa memberi tahu Mariena segala perkembangan tentang baik buruknya kondisi laut. Mereka pun juga saling berkontribusi dalam konservasi-konservasi umum yang diadakan oleh pihak instansi terkait.

“Kau tahu Arnav… Kau seperti ayahku yang selalu memberiku informasi tentang laut bahkan tanpa aku minta sekalipun, aku sangat berterima kasih kepadamu, senang bisa mengenalmu Arnav dan senang bisa bertemu kembali denganmu di tempat yang sama seperti pertama kali kita bertemu.” Ucap Mariena memandang Arnav dengan raut yang penuh bahagia. Lalu ia kembali memandang indahnya laut biru dengan ombak yang saling berirama langit seolah mendukung mereka untuk berlayar jauh menelusuri luasnya lautan atau bahkan samudra.

“Terima kasih kembali Mariena telah datang di kehidupanku memberiku warna yang semula abu-abu menjadi lebih berwarna. Kau bisa menganggapku seperti ayahmu jika kau mau, walau aku tak sehebat ayahmu namun, aku akan berusaha dan membuktikan bahwa aku bisa menjagamu dan memberikan segala hal yang kau inginkan dengan segala kemampuan yang aku miliki. Mariena senang mengenalmu dan Mariena senang bisa menjatuhkan hatiku untukmu.” Mariena yang mendengar itu sontak melihat ke arah laki-laki yang berada tepat di sampingnya itu, terlihat bahwa Arnav dengan susah payah bertekuk lutut di hadapan Mariena. Kapal yang bergoyang tak mengindahkan Arnav untuk menunjukkan niat baiknya.

“Mariena… Aku bukanlah laki-laki sempurna yang lebih hebat jika dibandingkan dengan ayahmu, aku hanya seorang anak laki-laki kecil yang sedang bermain istana pasir lalu tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik jelita, memberitahuku bahwa apa yang aku lakukan bisa merusak pantai jika dilakukan secara terus menerus, bolehkah anak laki-laki kepala batu ini meminta gadis aneh untuk berteman selama-lamanya dalam ikatan hidup?”

Mariena hanya diam tak bersuara sampai pada akhirnya “Baik… Gadis aneh ini menerima tawaran anak laki-laki berkepala batu untuk berteman selama-lamanya dalam ikatan hidup.”

Arnav yang mendengar itu langsung tersenyum lebar dan lantas berdiri dari posisi awal “Terima kasih Mariena mari wujudkan segala impian kita secara bersama-sama dan mengembalikan kembali Pantai Prasaja seperti awal kita bertemu.”

TAMAT