PERLU PERESTROIKA DALAM PEMBELAJARAN

Penulis: Marsudiono, S.Pd.

Guru Bahasa Inggris 

70 Persen Anak Indonesia Memiliki Tingkat Literasi di Bawah Standar Minimum Berdasarkan Tes PISA, begitulah judul artikel di liutan6.com. Nisa Felicia, Direktur Eksekutif Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), berpendapat bahwa keinginan seseorang untuk belajar sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kemampuan dan kemauan. Nisa mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil tes PISA, masih ada sekitar 70 persen siswa Indonesia yang memiliki tingkat literasi di bawah standar minimum yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif, yang bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar secara mandiri.

Berdasar fenomina di atas, guru sebagai agen of change dalam pendidikan harus punya daya gedor yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu perlu perestroika (meminjam istilah Gorbachev) dalam pembelajaran. Jaman dulu, guru di anggap sebagai ‘the king of the class’ sehingga begitu besar otoritasnya di kelas. Ditambah lagi ada slogan ‘teacher can do no wrong’ karena saat itu gurulah sumber dari segala sumber ilmu.

Di era sekarang peran guru sebagai fasilitator. Oleh karena itu dalam pembelajaran harus ada dialektika dengan siswa tentang materi Pelajaran. Untuk apa kita menyuruh siswa berlatih menghitung cepat kalau toh dalam kehidupan sehari-hari akhirnya kalah dengan excel. Tidak relevan lagi guru Bahasa Inggris menyuruh siswa menerjemahkan teks, karena tugas itu sudah terwakili oleh Google Translate. Pembelajaran di masa sekarang harus punya visi ke depan dengan prediksi apa kebutuhan skill yang akan terpakai di masa yang akan datang.

Guru jangan sampai terkooptase oleh tugas administratif yang kurang berkorelasi positif dan significan pada kualitas pembelajaran. Maka dari itu tidak bisa berkata tidak untuk guru harus menguasai IT. Karena hanya dengan itulah tugas administratif guru bisa diatasi dengan lebih cepat dan mudah. ‘Technology cannot replace a teacher, but a teacher without technology competency will be soon replaced.’ Ungkapan ini sangat tepat, memang teknologi tidak bisa menggantikan peran guru, tapi guru yang tidak menguasai teknologi akan segera diganti oleh orang lain yang lebih menguasai  teknologi.

Dalam konstalasi pembelajaran Bahasa Inggris misalnya, guru hendaknya melakukan pendekatan ‘hermeneutic’ ketimbang menyuruh siswa mencari arti kata di Google translate. Secara naluri alamiah manusia bisa menebak makna kata dari konteksnya. Dalam belajar menulis, biarkan siswa menggunakan media teknologi yang ada. Google adalah alat, dan alat akan ditinggalkan ketika tujuan sudah tercapai. Tidak masalah pada awalnya siswa membuat kalimat dengan mengambil dari Google. Tapi guru harus menjelaskan bahwa copy paste adalah skill terendah. Di waktu lain mereka harus melakukan modifikasi pada Subject, Object, dan Verb dari kalimat tadi. Pada akhirnya siswa diarahkan untuk ke level yang lebih tinggi yaitu ‘create’ mencipta, karena kompetensi hidup yang dibutuhkan di masa yang akan datang adalah ‘creativity’. Bila mereka puas hanya dengan copy paste maka resikonya akan kalah dalam kompetisi. Karena untuk unggul dalam kompetisi harus punya kompetensi. Student’s awareness seperti inilah yang mesti dibangun oleh guru.

‘A teacher is not a king, but a teacher creates many kings.’ Seorang guru bukanlah raja, tapi guru menciptakan banyak raja. Ungkapan ini bisa menjadi media meditasi tingkat tinggi bagi guru bahwa orientasi seorang guru adalah mengantarkan siswanya menuju pintu gerbang kesuksesan. Kesuksesan seorang guru tidak diukur dengan seberapa banyak hartanya karena itu memang bukan orientasi guru. Keberhasilan guru parameternya adalah seberapa banyak siswa menjadi sukses melalui didikannya.

Berikut adalah 7 fakta tentang belajar yang bisa kita renungkan.

  1. Belajar lebih mudah memahami ketika niatnya untuk diajarkan ke orang lain.
  2. Belajar akan maksimal bila dalam zona the power of ‘kepepet’. Belajar akan lebih efektif bila kita benar- benar membutuhkan ilmu itu.
  3. Semakin tua usia pembelajar semakin rentan terpapar syndrom DDR (Daya Dong Rendah) ini dipengaruhi kapasitas memory nya sudah overload.
  4. Ada 3 tingkatan belajar:

Pemula, baru dapat ilmu sedikit sudah merasa menguasai segalanya.

Menengah, Sudah menguasai banyak ilmu dan jadi tawaduk (rendah hati).

Tingkat Lanjut, Semakin banyak menguasai berbagai ilmu, semakin merasa bodoh karena ilmunya hanyalah setitik buih ditengah samudra ilmu yg begitu luas.

  1. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang diingat. Semakin banyak yang diingat maka semakin banyak yang dilupakan. Agar ilmu baru tidak lupa maka harus disimpan di long term memory dengan cara digunakan sesering mungkin. Kalau tersimpan di short term memory, hari ini paham besok akan lupa lagi.
  2. Refresh memory dan bersihkan virus di brain memory anda dengan sholat tahajut, insyaallah kapasitas memory kita akan terupgrade.
  3. A Little Learning is a dangerous thing. Orang yang tahunya hanya sedikit dan tidak menyadari betapa sedikit ilmunya akan cenderung berbuat salah. (Alexander Pope).

Demikian paparan singkat ini semoga bisa menjadi secuil bintang diantara ribuan cahaya lain yang berserakan di kelamnya langit malam pendidikan Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *